Message from the author:

Thanks for visiting my blog...
Please feel free to post any comment,,, any comment, criticism, any thing.. so I can make this blog getting better and better.

Oh, btw.. don't forget to leave your name too, and email as well so I can send my gratitude...

Enjoy!

Thursday, December 1, 1988

Jalan-jalan Sepi

Jalan-jalan Sepi

(episode jalan-jalan sendirian)



bandung temaram
berkepak sayap-sayap bermesraan
mengibasku dalam sendiri
ditengah bising yang enggan peduli

teronggok sunyi
di tengah sepi, bahgia dicari
aku redup tatapi sekeliling
serasa ada yang hilang
rindu yang kerap kulinting

bandung temaram
jauhkan nuansa kemesraan
di tengah ilalang kemesraan


(Desember 1988)

Biar Raga Tanpa Suatu Apa

Biar Raga Tanpa Suatu Apa



Biar raga tanpa suatu apa
tetap ‘kan kudera seribu rintangan pun
mesti hancur tubuh luluh
dan remuk redam buku tinjuku

Aku suatu nuansa tanpa bahgia
senyum, tawa luluh menjauh
menua rupaku timpang dari usia
kerna sering naqli selubung pikir

Aku tertawa
sedang tiada terulas satu senyum
dan aku diam di depan-Mu
tanpa keluh,
tak mengadu


(Siram 47. 1988)

Sunday, January 10, 1988

Kita Adalah


Kita Adalah...

(sebuah ajakan buat introspeksi)


Kita adalah,
makhluk Tuhan yang manis-manis
nan lahir dalam fitrah putih suci
‘tuk berjalan tempuh sejuta warna
masihkah kita suci putih murni?

Kita adalah,
boneka liat penuh dengan gerak
dibawah kendali tangan nafsu
yang gerakkan kita kesana-sini
bisakah kita melawan kendali nafsu?

Kita adalah,
wujud sejuta rupa dan nuansa
berbalut derajat mulia sebagai manusia
‘tuk pimpin dan kelola jagat ini
benarkah kita manusia?

Kita adalah,
aktor-aktor pemeran penuh muslihat
yang mampu gelengkan kepala para malaikat
di atas panggung maha segala ini
bilakah kita henti berperan?

Kita adalah,
kita yang ditakdirkan Yang Kuasa
‘tuk berlaku sebagai manusia yang manusia
di atas dunia yang penuh segala
kita...???


(1988)

Sepinya Sepi


Sepinya Sepi



Hujan malam, dingin menggigit, lembab, meremang kudukku
aku meradang, gemeletuk geligi beradu
menyatu dalam kemercik air pecah di genting
mengambang ke telinga

Hhh... ngilu... kuyu... basah... resah...
nggigil... geletar... gemeretak... gemerinting...
Nuansa malam senyaplah kini, kusendiri memantau kelam
dengan rindu yang tak kumengerti, pada siapa?

Sedang tanganku tak lagi mengejang beku
kukepal, kuhentak, kutinju...
semuanya yang tak kumahu
Seribu hasrat, melayang melenggang,
menguap ngelayap, ke rona pekat alam yang pucat

Ku tak bisa kejar dan pasrah
dengan semua yang hilang
aku mati walau masih tertawa
aku senyum tulus, walau dengan mendengus
aku beku meski sekujur nadi,
darah laju berpacu

Hhh... sepi... mati... berserak...
tak keurus... ngacak... rusak...

BRAK...!!!
GROMBYANG...!!!
Itu kumau, hidup dalam semarak penuh dendang
bukannya lagu serenade yang melata
bikin jiwa bak bodoh, terlongo terlena

Uh ..! ah...!
kumuh, aku ‘lah kumuh
parah, aku ‘lah parah
... tik ... tik ... tik ... tik ... tik
hujan jatuh gemeritik, titik demi titik
terus gemeritik

hari ‘lah dini sudah...

(1988)