Message from the author:

Thanks for visiting my blog...
Please feel free to post any comment,,, any comment, criticism, any thing.. so I can make this blog getting better and better.

Oh, btw.. don't forget to leave your name too, and email as well so I can send my gratitude...

Enjoy!

Friday, May 20, 2005

Berapa Lama (2005)


Berapa Lama


berapa lama kita hempaskan,
rindu di kedalaman pikiran kita?

aku riuh berlagu: meredam gejolak rasa,
memanggilmu...
kau riang mengumandangkan
tentang perbedaan dan kemustahilan.

kita terperangkap seperti sepasang jiwa
terkekang dalam kamar tanpa warna
kau aku saling pandang tanpa sulih bicara
terpisah jarak yg begitu dekat

berapa lama lagi harus kusimpan?
rindu ini kian kuyu dan mati layu..


(May 2005)

Tuesday, May 17, 2005

Masih Adakah Rindu Untuk Kita?


Masih Adakah Rindu Untuk Kita?

(episode lama)


jika aku terikat pada gerak kebenaran
dan kau lebur dalam irama kehidupan

masih adakah rindu untuk kita?

biarkan saja getar itu hilang
seperti kisah kehidupan yang usang
tergerus roda yang berputar
tertimbun waktu yang perlahan pendar

aku akan merajut namamu di keheningan
melukis kenangan demi kenangan
meski tak mungkin lagi kutuangkan malam
dengan warna-warna kita yang kelam

getarkan saja senarmu, andai masih bernada
karena tak mungkin lagi kita titipkan lagu
pada desir angin yang menari hinga senja
karena tak ‘kan ada lagi dansa, kau dan aku

sepertinya tak 'kan lagi rindu kita bicara
meski barangkali masih ada


(May 2005)


> Compiled

Tuesday, May 10, 2005

Nyanyian Samudera (2) ***

*catatan pengantar tidur

adakah kita mampu memetik buah kenangan
yang lahir dari pikiran dan keinginan?
sehari saja... kuinginkan langit tak tergantung
tinggi.. begitu tinggi di ketinggian tempatmu

atau;

menepilah dari pandangan
agar dapat kukuak apa yang kau kandung
dan kupeluk apa yang telah kau lahirkan

rindumu adalah untaian anak-anak manis
yang setiap hari menggayuti leherku
menyekap
mendekap
membenamkanku di dasar kebiruan samuderaku
yang entah gelap entah dalam entah berdasar
menyeretku tenggelam

jika saja kau aku bernyanyi dalam sesang yang sepi
pasti akan kau dengar serenade
menghantarkan tidur kita dalam kelelapan
dan erang kegelisahan

kita selalu saja berjalan di kehidupan berbeda
keinginan yang liar dalam dimensi khayal
dan ketakutan yang parau dalam kenyataan

hanya satu yang berjalan seiring bersama
rindu dan cinta yang bergelora!


(10 Mei 2005)


*** Dikompilasi ke buku:
"Meet Me at the Horizon"
Ramli Firmanco

Monday, May 9, 2005

Sehari Saja...

Jika ada sehari saja dimana aku 
bisa melepaskan semua atribut yang menyelimuti diriku, 
sehari dimana aku 
bisa menjadi diriku sesuai dengan keinginanku, 
sehari dimana tak ada kemarin dan hari esok, 
sehari dimana hari itu tak menjadi bagian 
dari sejarah masa lalu dan yang akan datang, 
dimana tak ada keterkaitan.. 

maka aku akan pergunakan hari ini 
untuk memelukmu!

Sehari... saja!

Karena aku sangat merindukanmu...



(Mei 2005)

Friday, May 6, 2005

Dialog Laut Biru dan Langit Biru


Suatu ketika, di tengah kesibukannya mewarnai hari, Laut Biru dan Langit Biru kembali bertemu di percakapan yang sepi.

Laut Biru tenang meriak, dan Langit Biru semarak...

Laut Biru:
(keluh)
laut biru selamanya akan menjadi laut biru
dan kau selamanya akan menjadi langitku
dan ketika laut biru memandang langit biru
selamanya dia akan menyimpan rindu kepadanya


Langit Biru:
kamu itu keindahan, sayang
kamu itu adalah ketenangan
kamu kedamaian yg aku inginkan
itulah kamu

Laut Biru:
lalu kenapa kau tak mengambilku?
ambillah, bawalah aku ke langitmu.

Langit Biru:
dan kaulah laut biruku!
justru karena kau lautan, aku tak mungkin bisa memilikimu.
kau milik bibir pantai yang setia menantimu
kau milik pulau-pulau yang selalu kau rengkuh

Laut Biru:
dan kau milik ketinggian yang hakiki
kau yang selalu mendekap matahari
kau berteman awan-awan tak mungkin hidup tanpamu

hm, barangkali tempatmu terlalu tinggi
tak ada yang bisa kutawarkan padamu
selain riak-riak kecil untuk kau arungi
yang akan mengayun dan menina-bobokanmu,
ketika kau gemuruh

turunlah, kapanpun kau mau memelukku..
kapanpun kau menginginkanku.

Langit Biru:
yang kumiliki hanya biru
tentang keinginan yang menggebu
tentang segala rasa yang serupa dengan birumu

dan aku hanya bisa memelukmu
lewat butir-butir yang bergumul menjadi awan kelabu
hanya dengan itu kita menjadi dekat

dan selamanya di cakrawala kita melekat..


dan percakapan siang itu terputus
ketika riak-riak menyenyap
matahari pergi meninggalkan gelap
langit dan laut kembali sepi terlelap
menanti esok hari kembali


(Mei 2005)