Message from the author:

Thanks for visiting my blog...
Please feel free to post any comment,,, any comment, criticism, any thing.. so I can make this blog getting better and better.

Oh, btw.. don't forget to leave your name too, and email as well so I can send my gratitude...

Enjoy!

Monday, June 6, 2005

The Undeliverred Letter #2

Aku tidak tahu apakah mengabarkan ini kepadamu akan memperbaiki keadaan, atau malah tambah memperburuknya.. Seperti juga aku tidak tahu, apakah memendam apa yang kurasa saat ini.. Itu akan lebih baik ketimbang mengabarkannya padamu. Semua serasa sama bagiku.. Tak ada yang lebih baik satu sama lain.

Aku selalu memiliki keyakinan bahwa apa yang kutuliskan untukmu, suatu hari nanti pasti akan kau ketahui. Dan keyakinan itu pernah terbukti.

Begitu lama kusimpan, kuperam dan kupendam segala yang kurasa tentangmu, dengan satu keyakinan bahwa suatu ketika nanti aku akan mengatakannya kepadamu. Dan itu akhirnya terbukti ketika kita akhirnya bisa bersama.. Hati kita menyatu!

Maka, aku akan selalu menuliskan apa yang kurasakan tentangmu saat ini, agar suatu hari nanti kamu tahu..

Aku tak tahu apa yang terjadi diantara kita.. Kita tak lagi bersama, dan tak akan pernah bisa. Dan itu kita sadari! Tapi, seingatku diantara kita tak pernah ada kata berpisah.. Kita tak pernah saling mengucapkan selamat tinggal, bukan?

Aku selalu ingat kata-kata kamu tentang apa yang mbak endang bilang tentang kita.. "Georgina, kayaknya elo ama ni cowok bakal dalem perasaan elo.. ati2, lho!? Gw liat dari garis tangan elo, hub elo ama ni orang bakal aneh.. jauh, tapi langgeng," begitu cerita kamu waktu itu..

Hm, apakah cerita itu yang mempengaruhi aku, atau memang aku terlahir dengan kutukan ini.. Bahwa aku tak 'kan pernah bisa melupakan kamu, tapi juga tak 'kan pernah bisa bersamamu, aku kerap dihadapkan pada pertanyaan yang selalu berputar dan terngiang-ngiang di benakku.. Siapakah gerangan seseorang yang menjadi my soul mate? Kamukah? Atau seseorang yang saat ini bersamaku? 

jika memang bukan kamu, lalu mengapa waktu demi waktu, dalam keadaan sadar atau terlena, kuinginkan atau tidak, namamu selalu kudesiskan? Namamu selalu tertera di benakku.. Lekat di pikiranku.. dan menjelma pada seluruh apa yang kulihat, kupegang dan kurasa?

Terkutuklah aku karena tak pernah bisa melupakanmu.. Celakalah aku karena tak pernah bisa menghapus sesaatpun kamu dari pikiranku.. 


(06.06.05)

The Undeliverred Letter #1

Pikiran manusia hanyalah jutaan sel yang hanya mampu menampung memori yang terbatas.. Seperti bejana yang kedalamnya dialiri air. Perlahan tapi pasti, bejana itu akan penuh. Dan ketika aliran airnya tak berhenti, air itu akan tumpah ruah karena tak lagi memiliki tempat di dalam bejana..

Lalu apa yang harus kulakukan ketika hari demi hari, waktu ke waktu, detik demi detik, siang dan malam, terang dan gelap, nafas yang kuhirup dan kuhembuskan, dalam diam ataupun bergerak, pikiranku selalu dipenuhi tentang kamu?

Tentangmu selalu mengalir memenuhi benakku. Selalu tentangmu!

Kau seperti mata air yang tak pernah kering sepanjang musim, mengisi benak dan pikiranku.. Dalam sadar dan terlenaku, segala rasa tentangmu menyeruak. Kau ada dalam tiap mikron tetes darah yang mengalir di tubuhku. Dan ketika aku melawan keadaan, berusaha mengenyahkan kamu dari pikiranku, menepis bayangmu dari benakku, seketika sekujur tubuhku bergetar, setelah itu hampa.

Maka salahkah jika aku tak pernah kuasa menolak kehadiranmu!

Inikah kutukan?

Atau takdir yang harus kujalani di seluruh sisa umurku?

Adakah waktu bisa menyembuhkan luka ini? Adakah waktu bisa membenamkan seluruh kisah tentangmu ke dasar ingatanku yang tergelap, agar kau serenta musnah. Agar aku tak mendengar lagi detak di jantungku yang menyebutkan namamu. Tak sekalipun lagi!!!

Entahlah..

Kapan bilanya awan2 tak melukiskan wajahmu lagi di angkasa.. Kapan bilanya langit biru tak memanggilku mendongak ketika suaru deru membasuh telingaku.. Kapan bilanya setiap helai bulu di kulitku tak meremang ketika angin mendesau dan seperti biasa mendesiskan namamu, di keheningan malam, ketika aku bertelekan lengan menghitung bintang-bintang dan mencumbu malam.

Entahlah...

Andai kau tahu, betapa aku ingin melupakanmu.

Tapi bayangmu selalu memelukku.


(06.06.05)