Message from the author:

Thanks for visiting my blog...
Please feel free to post any comment,,, any comment, criticism, any thing.. so I can make this blog getting better and better.

Oh, btw.. don't forget to leave your name too, and email as well so I can send my gratitude...

Enjoy!

Thursday, January 26, 2006

Kau Satu Lukisan Yang Tak Pernah Lekang (1996)


Kau Satu Lukisan Yang Tak Pernah Lekang (1996)

the story of an old picture... your picture


Diantara begitu beraneka musik yang mengalun di telinga, lagu tentangmu tak pernah henti membahana. Mengusik jauh ke dasar kedalamanku yang bahkan aku sendiri pun tak pernah mampu menjamah. Lagumu selalu saja mengalirkan denting-denting yang bahkan ketika kusumbat telingaku rapat-rapat, pun masih saja terdengar lekat. Karena getarmu bukan saja mengaliri udara sekitarku, tapi merasuk di sekujur pori-pori kesadaranku. Menggetari relung hatiku, dimana kian ke dasar kian menyeruak gemanya.

Dan diantara lukisan-lukisan bayang yang kuhempaskan ke dasar jurang ingatan, di tempat mana kumusnahkan ribuan kenangan yang tak lagi ingin kusimpan, lukisan tentangmu tak pernah lekang meski kuendapkan sejuta keinginan untuk melupakan. Kau, dengan wajah mana dulu kerap kulekatkan telapak tanganku meresapi kelembutannya... sorot matamu, di tatap mana seringkali kulabuhkan pandanganku... senyummu, di bias mana kurebahkan resah dan gundah menjadi kelegaan tak membuncah... dan kuning langsat kulitmu, dengan bulu-bulu halus padanya sering kali jari-jemariku menari menyentuh-resapi perlahan seakan waktu pun semerta berhenti... tak pernah sekalipun mampu kuenyahkan. Ribuan kali jarum waktu berlari membenamkan segala tentang wajahmu, kau masih saja ada disana... abadi dan asri lestari. Tak sekalipun rindu terusik pergi.

Diantara debu dan segala pernak pernik yang berubah menjadi usang seiring waktu yang terbuang, selembar lukisan tentangmu, semerta hadir menghidupkan lagi getar yang sempat kuendapkan dan melemah hampir mati. Dulu dan hari ini tak pernah berbeda, aku tak mampu memusnahkannya. Seberapa besar pun keinginanku untuk seketika merobeknya, sesuatu mendekap erat dan mengikat jari-jariku seketika kaku tak berdaya. Bergetar tak terhingga. Aku tak mampu. Aku tak bisa.

Kau satu lukisan yang tak pernah lekang, tak pernah mampu kubuang...


(26 januari 1996)

> Compiled

Wednesday, January 25, 2006

Perlahan, Aku Kehilangan Bayang

perlahan, aku kehilangan bayang
seiring nafas yang kuhembuskan
lebur bersama kekosongan memeluk udara
dan kelu berubah menjadi beku membelenggu

kita tiba di lembar dimana sejarah pun tercipta
karena aku terikat pada gerak langkah hari ini
sedang kau riuh berpacu mengejar esok hari
menghempaskan jambangan kenangan yang pernah kita ukir
sebagai kepingan kepingan tak berbentuk dan tak berarti

maka waktu tak ubahnya abu menyesakkan nafasku
menyekat tiap celah dimana udara kuresap
menjadi pepat tak berkesudahan mendera-menyiksa
jingga menjadi hitam, hidup tak lagi merona
aku makin kehilangan bayang, perlahan

kian samar,
kian suram,

kian terbentang kekosongan tak berbatas!


(Januari 2006)