Yang
menyatukan kita memang warna. Kau memiliki biru di langitmu, dan aku memiliki
biru di samuderaku. Tak pernah sekalipun aku bosan menikmati warna yang kau
tebarkan. Mulai sejak aku membuka mata dan terjaga, hingga ketika langit
menjelang kelam. Birumu selalu menggugahku.
Menarikku...
Mengikatku...
Dan
kau,
Dua
tahun memang bukan waktu yang panjang agar aku bisa lebih dalam mengenalmu. Tak
banyak lembaran kenangan yang bisa kita gali di rentang waktu sependek itu.
Tapi
dua tahun juga bukan waktu sesaat untuk mengakhiri kisah yang sesungguhnya
belum pernah kita mulai. Rentang waktu yang sesungguhnya sanggup mematikan
percikan api kerinduan yang tak disertai keinginan untuk terus hidup, membesar
dan membakar.
Tak
ada riak...
Tak
ada gejolak...
Namun
nyatanya api itu terus menyala, seperti matahari yang kau genggam.
Menghangatkan birunya samuderaku, menghangatkan air yang menyelimuti
kedalamanku ruang hatiku. Menggugah gerak di dasarku.
Dan
kau katakan padaku tentang tempat kita berjumpa di cakrawala. Di bidang mana
biruku dan birumu menyatu. Di garis mana mengaburkan batas antara langit dan samudera
biru, menghilangkan penyekat diantara kita. Seperti halnya ketika kau aku
berjumpa di dimensi yang maya, kita menyatu hati.
Sejiwa...
Senafas…
Maka
jika memang harus kita 'hanya' bisa bertemu di kebiruan cakrawala, maka
jadilah. Karena dimana pun, biru kita akan selalu sama. Langit dan samudera
akan selalu bercengkrama.
(July
2005)
*** Dikompilasi ke buku "Meet Me at The Horizon",
Ramli F. Memed, 2015
No comments:
Post a Comment